Open the new chapter, It’s little bit unobvious to begin anything. Yach, kurang lebih seperti itulah kalimat yang pertama muncul waktu terjaga di tanggal berikutnya. Meski bersyukur hari ini bangun dengan perasaan yang jauh lebih lega dan segar, berbeda dengan minggu2 sebelumnya, malam2 sebelumnya.
Semalam sebenarnya mau mulai nulis, melanjutkan tulisan yang ditargetkan bulan depan. Tapi, ternyata malah jadi rada gamang. Belum tahu gimana menemukan feel yang dibutuhkan dalam cerita-cerita itu. Eh, ga sengaja baca cerpen lama. Agak nge-charge juga sich dan karena ceritanya semi-fiksi jadi bikin mikir untuk beberapa hal. Life has its ups and downs kog. And so does my life, my world.
Hanya saja frekuensinya yang agak lain yang perlu aku pahami banget secara bijak. Atau kalau tidak, aku bisa terpuruk dalam dan lebih sulit naik ke permukaan. Aku tahu kog saat2 seperti ini adalah saat aku mengalami up and down dalam interval waktu yang singkat-singkat. Dalam artian detik ini bisa mikir positif banget..legaa dan ikhlas banget. Sadar kalau semua ini tuch berakhir yang emang udah harusnya berakhir, ga ada lagi yang perlu diributin. Mulai lagi segalanya, jalan lagi nerusin mimpi2 dengan atau tanpa dia. Nanti, di detik berikutnya aku bisa lunglai, sadar kalo dia udah ga disini lagi. Seperti melepas sesuatu yang berharga ke laut lepas. Kalo udah hanyut apa kita masih bisa berharap dia balik lagi ke bibir pantai dimana kita ada. Atau berharap kata2 di sms terakhirnya itu benar bahwa suatu saat dia mungkin cari aku lagi dan meminta hatiku lagi. Naif banget yach kesannya.
Aku ngerti..ngerti dengan sangat kalo kata2 itu mungkin cuma siasat untuk menghiburku. Atau sekedar basa-basi manis untuk menyudahi ini dengan ’indah’. Aku ga ragu kalo segala sesuatu memang bisa saja terjadi jika Alloh menghendaki. Cuma..plis dech, Dib..apa ga ada harapan yang lebih rasional dari itu ??! kalo aku mengharapkan sebuah awal hidup baru dengan seseorang, bukan berarti kita harus mengakhiri kehidupan lainnya yang jelas-jelas sudah ada dan butuh dipertanggungjawabkan.
Aku bisa menerima kejujurannya, alasannya. Aku tahu kog ga mudah membuat pengakuan seperti itu. Makanya aku juga merasa rela melepasnya, ga ada yang perlu aku dendamkan, ga ada yang harus aku eksploitasi sebagai kemarahan. Jawaban ini sudah sangat sempurna. Mungkin keputusan yang terbaik buat kita semua. Akan ada awal baru, hari2 baru yang seberapapun aku sulit dan tertatih-tatih lagi mengejarnya, tapi aku percaya dengan sangat bahwa di depan sana ada banyak janji2 Tuhan yang menungguku untuk menjemputnya. Yang ga bisa nunggu aku sedih terlalu lama. Aku harus tegar dan buktiin lagi kalo aku mampu kog melawan keadaan, bahwa aku akan slalu berusaha untuk jadi tangguh, Be a Tough Girl !!
Meskipun aku harus menawar-nawar diri lagi supaya ga jenuh memikirkan bentangan panjang yang belum apa-apa sudah terasa melelahkan. Jalani waktu sendirian lagi..fiuhh..kalo udah gitu kayak aku pengin cepet2 kabur ke bandung. Kelarin kuliah cepet-cepet, cari kerja di bandung, wujudkan mimpi2 disana, trus lanjutin S2 di universitas yang aku mimpiin dari lama. Tapi ga bisa gitu, ga ada yang beres kalo tergesa-gesa gitu, yang ada aku cuma capek2 lari dari kenyataan.
Satu hal yang tetap harus dipegang kalo se-ngak enak-ngak enaknya perasaan ini, sebagaimanapun jadinya semua ini. Aku, ga akan pernah melarikan diri dari kenyataan. Berpijak pada realita itu kunci pertama menghadapi ini. Pernah aku nulis gini ”menghadapi kenyataan terkadang memang melelahkan. Tapi, lari dari kenyataan jauh lebih melelahkan dan sia-sia.”
Boleh kalo aku belum mau mencopot fotonya dari buku kuliah aku, ga apa-apa kalo aku masih mau mensetting desktop & komputer aku pada hal-hal yang mengingatkan aku ke dia. Ya udah silakan aja kalo masih mau denger lagu2 kenangan pas lagi in love berat sama dia. Mau terusin nulis buku tentang kisah2 kita, mau nulis status di ym ato mau nyapa..senyamannya aku aja jangan dipaksa. Tapi, tetap dalam sebuah kesadaran kalo dia buka lagi seseorang yang pernah dekat denganku, bukan lagi calon suamiku, bukan lagi kekasih yang slama ini ada di sini, di hati & pikiran aku. Bukan lagi, bukan lagi dia.
Cukuplah dengan akhir yang baik ini, aku harap aku ga pernah ingin men-delete namanya dari friend list messangerku, menghapus no.telp-nya dari hp-ku, atau merobek apapun yang akan membawa pikiran & perasaanku ke dia. Ga perlu..aku Cuma perlu waktu untuk melungsurkannya perlahan. Sampai semuanya kembali seperti sedia kala waktu dia belum di sini, meski aku tahu sich situasi ini ga akan pernah bisa sama lagi. Setidaknya kebersamaan yang hampir setengah tahun ini udah membawa begitu banyak perubahan dalam hidup aku. Yang semoga kalo di komparasi efek baiknya jauh lebih banyak daripada efek buruknya.
Optimisme yang perlu aku jaga, yang sore kemarin, tepat banget tanggal 5 April 2010 alampun ikut memberi simbolisasi dan mengajari aku tersenyum lagi. Terima kasih Tuhan untuk pelangi cantikmu.
Minggu sehari sebelumnya, aku muter-muter cari pelangi tapi ga ketemu. Abis ujan deras, aku berharap melihat secercah kilatan warna-warni itu tapi tak ku temukan. Lalu sore kemarin waktu aku buru-buru mau ke kampus sehabis kerja. Tiba-tiba aja lari-lari kecilku terhenti. Aku lihat banget langit sore cerah senyum dan membingkai pelangi. Tadinya aku mau terusin pergi, tapi ga bisa. Yang ada aku lari balik lagi, naik ke lantai lima, aku mau lihat lengkungan setengah lingkaran yang utuh. Aku terpesona, begitu terperangah lalu bersandar di pagar.“Ya Alloh, hari ini jawaban itu telah jelas.hari ini akhir sekaligus awal baru. Aku mengerti apa yang kau kehendaki dari semua ini. Berwarna, jembatan warna-warni. Mungkinkah ini caraMu menjelaskan padaku bahwa di depan sana masih akan ada begitu banyak hari cerah dan berwarna-warni. Yang harus aku lakukan hanyalah melangkah, meneruskan langkah-langkah kecil menuju ke tujuanku, melewati naungan jembatan pelangi itu. Keluar dari sesuatu yang sudah jadi masa lalu. Lalu melewati hari baru yang colorful secara simbolik. Yeah..I got it! dan aku teruskan masa depanku yang kadang jauh lebih wonderful dari apa yang bisa ku bayangkan. Jauh lebih mengejutkan dan membahagiakan. Aku percaya Alloh menjagaku, aku percaya aku disini dalam balutan doa orang-orang yang begitu mencintaiku. Ga ada alasan aku surut, ga ada alasan takluk pada keadaan.
Paling seperti ritual biasanya lagu Aku Ada-nya Dee bakal terngiang2 di benakku sepanjang jalan pulang kampus, di angkot, di kantor, atau kalo lagi di kamar sendirian. Cukup ampuh bikin aku kuat karena orang2 hebat di hidupku akan selalu peduli kalo aku lagi merasa lemah dan butuh suplai spirit dengan dosis lebih.
”Teruslah berjalan, teruslah melangkah! Ku tahu kau tahu ..Aku ada..“
Dari subuh tadi aku ga berhenti nulis, ada bisikan doa yang pengin aku kristalisasikan dalam tulisan ini :
”Ya Alloh yang Maha Pengasih dan Penyayang,
Jika memang inilah jawabannya..
Jika memang ini yang Kau kehendaki sebagai keputusannya
Terbaik untuk aku, dia, dan semuanya
Aku tidak akan berputus asa pada rahmatMu
Tidak akan pernah berputus asa pada kasih sayangMu
Aku mohon berikan aku keikhlasan seluas-luasnya
Untuk menerima ini
Aku percaya janji-janjiMu
Wahai Dzat yang tidak pernah menyalahi janji”
Tentang jodoh..hal ini telah jauh-jauh hari dituliskan bahkan sebelum kita dilahirkan ke bumi. Hidup, mati, jodoh, rezeki kan sesuatu yang sudah Alloh jaminkan. Benar kita butuh usaha untuk menjemputnya, makanya ga ada sedikitpun dalih buat give-up. Satu yang pasti meskipun dia masih misteri, dia ga pernah jauh. Tiap harinya kita dan jodoh kita selalu semakin saling mendekat. Hanya saja antara dia dan aku, Alloh masih membentangkan tabir ghaib yang membuat itu jadi masih rahasia mutlak Tuhan. Kita butuh kesabaran dan waktu untuk menantinya karena pasti suatu saat Alloh akan memberikannya untuk kita di saat kita sudah matang, memberikannya di hari yang tepat, dengan cara yang tepat dan tentunya cara yang baik. Yes..the only think i should keep in mind. Ternyata banyak banget ya yang bisa diambil hikmahnya dari semua ini. ”Kalau cinta memang harus diperjuangkan, pastikan dulu seberapa layak ia untuk diperjuangkan.”
Tadi sempat terbersit soal main-memainkan hati. Tapi, aku buru2 harus menghapus lintasan itu karena aku yakin kog, ga ada di antara kita yang bermaksud begitu. Dulu kita emang serius, cuma yang perlu sedikit di noted dari peristiwa ini. Terkadang kita ga sadar terlalu lama membiarkan diri dalam keraguan dan kebimbangan, padahal dengan berlama-lama disitu kita ga tau seberapa banyak peluang dan kesempatan yang udah kita sia-siakan. Plus lagi, keraguan itu malah bisa menyeret kita ke keputusan2/ pilihan-pilihan yang ga tepat dan memperpanjang draft persoalan. So, try to be brave. Apapun, kita ga bisa kelamaan bingung, banyak yang harus dipilih dan dicari penyelesaiannya. Jangan kelamaan ragu. Beranilah..!!
Meski kadang tambahan waktu itu efektif juga sich..nanti dech di tulisan berikutnya aku mau nulis “Ajaibnya waktu” (hhe..pengalaman baru lagi)
Akhirnya ga ada yang perlu disimpulin dari semua ini, semua itu kesimpulan..kesimpulan baru dan lama yang membentuk diriku lagi yang sekarang, yang saat ini membuat hati, pikiran, dan sikap aku jadi lebih kaya lagi dari sebelumnya. Ga ada hal yang sia-sia sekecil apapun. Ga ada hal yang terjadi secara kebetulan. If everything has been written down, so why worry? ….